Rabu, 05 Januari 2011

BROKEN WINGS (Part 2 ~ END)


shindong
(Part 2 ~ end)
Apartemen Shindong
 “Jineul..., kau melamun” shindong membuyarkan angan Jineul. Jineul terperangah.
“ah,shindong oppa...” Jineul memberikan sedikit tempat untuk shindong duduk bersamanya. Shindong menatap Jineul, lalu melihat ke tv. Jineul benar-benar tidak konsen sepertinya, sejak kapan Jineul suka menonton drama seperti wookie saja. Setahunya Jineul paling tidak suka drama.
“ada yang kau pikirkan,?” shindong mencoba memastikan. Dia membawa popcorn dan pizza. Jineul melihat pizza yang masih hangat, sangat menggoda. Jineul mengambilnya satu, dan menggigitnya.
“um, oppa benar2 tidak keberatan aku disini,?” Jineul hanya ingin memastikan dia tak merepotkan shindong.
“hahaha.., kalau aku keberatan, apa kau akan pulang,?” shindong balik bertanya. Jineul menatap shindong.
‘jadi.., ”
aniyo. Aku tidak keberatan, apalagi kau sudah seperti adikku sendiri” shindong melanjutkan memakan popcornnya.
Jineul menatap shindong diam-diam ‘hanya adik ya... bodoh...!!!’ ada sedikit perasaan kecewa.
“oya, aku harus ke SM hari ini. kau tidak apa-apa disini sendiri,?” Jineul hanya mengangguk.
-----

Pukul 7.00 malam. Apartemen Shindong
Sudah pukul 7, tapi shindong belum pulang. Jineul sedikit bosan juga. Dia ingin pergi keluar, tapi malas. Akhirnya dia ingin membuat kejutan buat shindong. Tadi shindong bilang dia akan pulang cepat. Jineul akhirnya berinisiatif memasak sendiri untuk makan malam. Ya, kapan lagi bisa memasak untuk Shindong dan makan malam bersama. Akhirnya Jineul sibuk dengan persiapannya.
Pukul 8malam shindong belum juga pulang. Jineul menunggu dimeja makan. Layaknya seorang kekasih yang sedang menunggu kekasihnya. Meja makan itu tampak tak biasa, ada beberapa lilin dibeberapa sudut. Masakan yang lumayan banyak dan bisa dibilang istimewa. Jineul melihat jam, seharusnya shindong sudah pulang. Atau mungkin ada acara tambahan,? Sudahlah..., Jineul meninggalkan meja makan dan duduk disofa, menyalakan tv... dan iseng melihat-lihat majalah yang ada. Saat membuka majalah-majalah yang ada, Jineul melihat ada sebuah kartu terselip didalamnya. Jineul jadi penasaran, dilihatnya kartu itu... bukan ini bukan sembarang kartu... Jineul membaca tulisan yang ada dan...,
‘deg’ seketika perasaannya tak bisa ditahan. Air matanya mengalir begitu saja. Itu bukan kartu biasa, tapi undangan... ya, sample undangan pernikahan...

Shindong dan Nari

‘shindong oppa..., akan menikah’ rasanya sulit dipercaya. Jineul tak bisa menahannya lagi. Secepatnya dia meninggalkan apartemen itu. Dia tak peduli lagi dengan makan malam yang telah dia siapkan untuk shindong. Dia tak peduli.
------
Nari_Shindong

Pukul 9.00 malam
Shindong akhirnya pulang. Dia tak sendiri, Yesung bersamanya. Ya, tadi Yesung memaksanya mengaku. Sepertinya naluri seorang kakak sangat kuat. Bagaimana bisa dia tahu kalau Jineul bersamanya. Untunglah Yesung tak menyalahkan Shindong.
mian hyung..., aku tadi sudah bilang pada Jineul agar dia pulang, tapi dia tidak mw” shindong menjelaskan.
“tak apa. Dia memang keras kepala” yesung tampak sedikit lega.
Shindong membuka pintu apartemennya, tidak dikunci. Dia tidak curiga sedikitpun. Yesung mengikutinya dibelakang.
“Jineul..., aku pulang” shindong memberi salam. Tapi tak ada sahutan. Yesung agak heran, perasaannya sedikit tak enak.
“mungkin dia sudah tidur hyung” shindong mengajak yesung melihat ke kamar.
“Jineul..., kau sudah tidur,? “ lagi-lagi shindong tak dijawab. Shindong membuka pintu kamar, tidak dikunci juga. Dan Jineul tak ada dikamarnya. Shindong mulai sedikit khawatir.
“tadi dia masih disini hyung... aku tidak bohong” shindong takut Yesung tak percaya padanya.
Yesung tahu itu, dia mencari Jineul keseluruh ruangan. Nihil.
hyung..., liat...” shindong memanggil Yesung yang panik mencari Jineul keseluruh ruangan. Shindong memperlihatkan meja makan yang sangat istimewa. Yesung tampak makin khawatir. Mata yesung menyapu seluruh ruangan. Saat melihat majalah yang terbuka dan tv yang masih menyala, Yesung segera mendekatinya. Shindong menyusul dibelakang. ‘benar... jadi karena ini’ yesung melihat sample undangan didalam majalah yang terbuka itu.
Yesung bergegas lari keluar. Shindong masih bingung tak mengerti. Dia mengejar Yesung.
hyung... gwencana,? Apa Jineul baik-baik saja,?” shindong ikut mencemaskan Jineul.
ne, Aku tahu Jineul ada dimana” yesung bergegas menuju lift. Shindong masih penasaran, dia mengikuti Yesung.
“aku boleh ikut,?”
“Tenang saja..., she's fine" Yesung menutup lift meninggalkan Shindong.
-----

Udara malam ini cukup dingin. Yesung melajukan renaultnya ke sebuah jembatan penghubung antar kota di seoul ini. Jembatan ini masih tampak ramai walau malam telah beranjak, mengistirahatkan sang surya. Yesung melajukan renaultnya makin cepat. Dia sangat yakin kemana dia akan melajukan renaultnya. Yesung berhenti tepat diujung jembatan. Dia keluar dari mobilnya setelah memarkirnya dengan aman. Yesung menuruni jembatan, memasuki bawah jembatan yang berbahaya. Kalau tidak hati2 dia bisa jatuh dan terbawa arus sungai yang tidak begitu deras, tapi cukup kuat membawanya. Perlahan dia menuruni undakan kecil, dia tersenyum saat melihat seorang gadis terdiam menatap arus sungai. Gadis itu tak berubah, sejak kecil dia sangat bersahabat dengan air. Bahkan ketika air itu pernah hampir membawanya, dia tetap saja bersahabat.
“kau disini” yesung mengagetkan Jineul yang tengah duduk diatas sebatang pohon yang tumbang dan berada diatas aliran sungai. Gemericik air begitu terasa menenangkan. Jineul menoleh ke suara itu. Menatapnya, matanya berkaca-kaca. Dia sangat merindukan laki-laki ini. ya, Jineul begitu bodoh dengan mencoba membantahnya. Seharusnya Jineul menuruti kata-kata laki-laki ini. bukankah sejak kecil Jineul sangat penurut pada laki-laki ini.
“Yesung oppa...” Jineul menoleh dan segera berdiri, menghambur ke pelukan Yesung. Menangis terisak, mengingat kekonyolannya.
“keras kepala... sudah kubilang jangan menyukai shindong...!!! memalukan sekali, apa tidak ada yang lebih tampan lagi...” yesung mengusap rambut Jineul dengan penuh sayang. Ya, dia memang sangat menyayangi adiknya.
oppa..., bukannya menghiburku malah memarahiku” Jineul masih terisak. Dia senang Yesung  menjemputnya.
“sudahlah..., ayo kita pulang” yesung meraih tangan jineul.
"oya oppa.. kalau aku menyukai Hyukjae... apa boleh?" jineul nyengir
"mwo,??? kunyuk itu,??? lebih baik kau menyukai siwon yang jelas masa depannya dan yang pasti dia paling tampan setelah aku" Yesung berkelakar. Jineul hanya manyun 'tampan setelah yesung,? nggak salah,?'

END

3 komentar:

  1. wakakakaka...yesung emang paling tampan *loveisblind

    btw btw..si jineul sukanya ma yang aneh2..dari shindong lari ke unyuk.. ckckckckck

    BalasHapus
  2. wakakakaka
    selera kalian payah
    gak ada yg noemal

    BalasHapus