(Love and Friendship)
Part. II
Kantin Naitan University
Chika sudah masuk kampus lagi. Tapi siwon masih
dirawat dirumah sakit. Hye in setiap hari ke sana menemaninya. Orang tua Siwon
di Amerika, dan siwon memang melarang memberitahu mereka. Padahal masalah
serius seperti ini, siwon masih saja tak mw membuat orang tuanya cemas. Sejak
kejadian akhir2 ini, suasana Naitan University masih sama. Tak ada yang tahu
masalah balap liar itu. Dan tak ada yang tahu kalau Donghae dulu anggota
Bikers. Semua kembali normal, tak ada yang berubah. Bahkan, sikap chika dan
jaejoong juga tak berubah. Mereka masih suka membuat ulah, merampok orang-orang
yang mudah ditindas.
“aku heran. Kenapa chika dan jae masih bersikap
seperti itu,? Mereka tidak punya rasa terimakasih sama sekali” Ji Neul protes.
Memang sampai sekarang chika masih jutex padanya juga Hye in.
“tapi dia baik” Hye in meminum jus jambunya. Ji Neul
hanya memainkan straw-nya, mengaduk-aduk juz strawberry-nya yang tak perlu diaduk.
“tapi aku tak menyangka kau punya skills yang bagus
dalam balap liar kemarin Yesung” donghae masih penasaran bagaimana Yesung
melakukannya.
“hahahaha..., apa sich yang tidak bisa dilakukan
seorang Yesung” sifat over confidencenya kambuh.
“ctuk” sumpit donghae mengenai kepalanya.
“seharusnya aku tak bilang begitu tadi” donghae
menyesali ucapannya.
“sst... chika dan jaejoong bikin ulah lagi tuch” Ji
Neul tampak melirik ke arah chika dan Jaejoong yang sedang mengerjai juniornya.
Yesung, hye in, dan donghae menatap ke arah yang dimaksud ji neul. Tampak
jaejoong tengah memegang krah baju salah satu anak, sedang chika asyik memakan
makanan yang dipesan anak itu.
“bruk” jaejoong mendorong anak itu dan terjatuh.
Sebelah kakinya naik ke atas kursi, menatap tajam ke arah juniornya. Sang
junior beringsut menjauh dari
jaejoong dan chika. Jaejoong duduk didepan chika.
“jagi..., liat anak itu. Sepertinya dia membawa banyak
bekal. Anak mami” chika melihat ke arah seorang gadis yang tengah membuka
bekalnya. Terlihat menggoda. Jaejoong melihat ke arah yang dimaksud chika.
“tunggu ya..., aku ingin bersenang-senang dengannya”
chika meninggalkan jaejoong dan mendekati gadis itu. Gadis itu tampak terkejut
melihat kedatangan chika.
“apa itu bekal dari ibumu,?” chika menatapnya tajam.
Gadis itu tampak ketakutan. Siapa yang tidak tahu kim chika dan jaejoong.
“n.. ne” gadis itu gugup. Kim chika mengambil salah
satu bekalnya. Ramen.
“woooiiii..., ada yang mw ramen???” chika berteriak,
dia senang sekali membuat malu orang. Gadis itu hanya diam, semua mata melihat
ke arahnya.
“sepertinya ramen buatan ibumu tidak enak. Ku buang
saja ya” chika menumpahkan ramen itu perlahan disamping gadis itu. Dan
lama-lama mengenai baju gadis itu. Gadis itu hanya diam.
“ops..., mian” chika sengaja. Gadis itu masih diam,
dan perlahan menangis.
“kau keterlaluan...!!!” ujarnya. Chika sangat tidak
suka dibantah. Dia menatap gadis itu.
“kau bilang apa,? Keterlaluan,?” crots..., chika
menumpahkan sisa ramen ke wajah gadis itu.
“tak bisa dibiarkan” Donghae beranjak dari tempat
duduknya. Dia mendekati chika, dan memegang tangan chika yang telah memegang
saus untuk ditumpahkan bersama ramen pada baju gadis itu.
“kau...!!!” chika kaget melihat donghae. Jaejoong yang
melihat itu mendekati mereka.
“kalau berani jangan sama perempuan” jaejoong tampak
marah melihat donghae mencengkeram tangan chika kuat.
“ajari kekasihmu sopan satun” donghae menatap
jaejoong.
“kau pikir kau sopan bersikap seperti itu padanya”
jaejoong mulai naik pitam. Tangan chika telah dilepas donghae. Yesung, hye in,
dan ji neul menghampiri keributan itu. jaejoong sudah bersiap memukul donghae.
Tapi dihentikan chika. Kalau bukan mengingat donghae telah menolong
menyelamatkan bikers pada pertandingan malam itu, mungkin jaejoong sudah
memukulnya.
“sudahlah jagi..., percuma meladeni orang sok pahlawan seperti mereka” chika
mengajak jaejoong menyingkir. Donghae menatap tajam mereka.
“are u okay” yesung memastikan gadis yang disiram
ramen. Gadis itu mengangguk perlahan. Hye in membantunya membersihkan ramen. Ji
neul mendekati donghae, lalu mengapit lengan donghae dengan kedua tangannya.
Menatap kepergian chika dan jaejoong.
“aku akan membantumu membersihkan pakaianmu” hye in
menuntun gadis itu ke kamar mandi.
Yesung dan donghae menunggu dikantin. Sementara ji
neul menyusul hye in dan gadis itu. tak lama mereka kembali, kondisi gadis itu
sudah lebih baik. Gadis itu membereskan bekalnya. Tapi...
“anggurku kemana,?” gadis itu memperhatikan kotak
anggurnya tinggal batang-batang kecilnya saja. Dia menatap satu per satu orang
yang ada. Dan dilihatnya yesung tengah memakannya. Mengetahui hal itu, yesung
pura-pura tidak tahu.
“yesung..., kau memakannya,?” gadis itu protes.
“ah..., aniyo.” Elak yesung. Gadis itu mendelik
menatap Yesung yang sok tak mengerti
apa-apa.
------------
Sudah seminggu ini hye in selalu datang ke rumah sakit
untuk menemani siwon. Siwon masih belum diijinkan pulang. Dia masih harus
menjalani terapi khusus. Hye in membuka pintu kamar tempat siwon dirawat. Dia
jauh lebih baik sekarang, sudah tidak ada lagi selang-selang dan peralatan
medis yang menempel pada tubuhnya. Siwon tampak sedang jenuh melihat tv.
“ah..., Hye in... untung kau datang. Aku sangat bosan”
ucapnya senang melihat kehadiran Hye in. hye in tersenyum. Dia meletakkan sekeranjang
buah di meja samping tempat tidur siwon, lalu mengganti bunga dalam vas dengan
yang lebih segar.
“kau sudah makan,?” hye in duduk dipinggir tempat
tidur siwon. Membantu siwon bersandar.
“ne. tadi chika dan jaejoong juga kesini” ucapnya. Dia
tampak senang melihat kedatangan Hye in. sangat berbeda dengan siwon yang
selama ini cuek padanya.
“mianhe sudah merepotkanmu. Sebenarnya kau tak perlu
setiap hari menjengukku” siwon menatap hye in lekat. Mata gadis ini sangat
indah. Selalu berbinar setiap kali dia tersenyum.
“aku senang menemanimu siwon” hye in berujar. Dia
mengupaskan buah untuk siwon. Siwon melihat tangan-tangan Hye in yang terampil
mengupas buah. Menatap wajah hye in perlahan, tangan siwon lembut menghentikan
kesibukan tangan hye in. hye in kaget. Menatap siwon tak mengerti.
“aku ingin bicara serius padamu” siwon menatap hye in
dalam. Hye in sedikit berdebar. Siwon mengambil buah dan pisau ditangan hye in.
Meletakkannya dikeranjang buah. Hye in masih diam. Rasanya sangat berbeda saat
siwon menyentuh tangannya. Ada kehangatan dan kelembutan luar biasa. Hye in
menepis jauh-jauh lamunannya.
“kau tahu...” siwon menggenggam kedua tangan hye in.
Hye in menatap siwon, bertanya-tanya apa yang akan siwon katakan.
“kau adalah aalasan yang membuatku bertahan hidup hye
in...,” deg...!!! hye in terpana. Ada perasaan berkecamuk dalam hatinya. Hye in
masih diam. Dia tak bisa berkata apa-apa.
“gomawo...,” siwon melepaskan genggamannya. Hye in
masih larut. Dia menatap kedalam mata siwon. ‘apa maksudnya’ hye in masih
penasaran. Siwon mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela. Dia hendak
bangkit dari tempat tidurnya. Hye in tersadar dari angannya. Membantu siwon
turun dari tempat tidurnya. Siwon jauh lebih sehat sekarang. Siwon berjalan ke
jendela, membuka jendelanya. Angin segar berhembus menerpa wajahnya. Menghirup
dalam-dalam angin yang menamparnya. Hye in hanya diam memperhatikan siwon
dibelakangnya.
“aku akan ke amerika” siwon masih menatap keluar. Hye
in terkejut. ‘amerika,?’
“orang tuaku sudah tahu. Mereka ingin aku berobat
disana. Dulu aku sudah putus asa, dan ku pikir percuma hingga akhirnya aku
memilih kembali kesini” siwon menjelaskan semuanya. Hye in masih diam, menatap
punggung siwon. Bahkan dari punggungnya, hye in bisa melihat kalau siwon sangat
tampan.
“sekarang, aku tak mw mati. Ada banyak temanku disini.
aku masih ingin balap liar bersama jaejoong dan chika. Aku masih ingin
melakukan banyak hal. Aku harus sembuh...!!!” siwon memperhatikan lalu lalang
diluar kamarnya.
Hye in terdiam, lalu tersenyum. Dia senang siwon kembali
semangat.
“untuk itu.., aku ingin minta satu hal lagi darimu”
siwon masih tak menatap hye in sedikitpun. Hye in masih terpaku, makin
bertanya-tanya apa yang ingin siwon sampaikan.
“tolong jangan mengkhawatirkanku lagi...,” kata
terakhir siwon cukup menampar hati hye in. ‘kenapa,?’ tapi hye in hanya diam.
Bulir-bulir kecil menetes dipipinya. Bagi hye in itu sama saja menghancurkan
penantiannya selama 6tahun ini.
---------
Naitan
University
Hari ini siwon sudah kembali ke kampus. Hye in tampak
sangat senang melihat siwon ada dikampus ini lagi. Tapi tidak sebahagia itu,
karena hari ini sekaligus hari terakhir siwon dikampus. Ya, hari ini siwon akan
berangkat ke amerika.
“jadi...” ji neul menanti jawaban hye in
“hari ini” hye in tampak sedikit tak bersemangat.
“kau yakin akan diam saja,?” donghae memasukkan makanan
disumpitnya ke mulut.
“apa yang bisa ku perbuat donghae,? Mengejarnya ke
bandara dan mengatakan aku menyukainya sehingga dia membatalkan
keberangkatannya,?” hye in sedikit terbawa perasaan. Dia tampak serius.
“hahaha..., kau terlalu banyak menonton drama hye in”
yesung malah tertawa terbahak-bahak. Hye in menatap yesung tajam.
“yesung....!!! aku serius...!!!” hye in sepertinya tak
main-main. Dia beranjak meninggalkan tempat duduknya. Membuat jineul, yesung,
dan donghae terkejut.
“hye in... tunggu...!!! yesung hanya bercanda” jineul
mengejar hye in yang tak mempedulikannya.
Donghae menatap yesung. Wajah yesung berubah, tampak
sangat murung.
“dia pikir aku tak sedih,?” ucapnya lirih. Ada rasa
sakit yang dalam. Donghae menepuk bahu yesung pelan. Memberi semangat.
---------