Jumat, 14 Januari 2011

BIKERS (Part. 2)


(Romantika Anak Manusia)

(Part. 2)

siwon
Seperti biasa, Hye in pulang sendiri. Dia memang lebih suka menikmati sepanjang jalan sendirian. Disebuah lampu merah, hye in suka menghentikan langkahnya sejenak. Sudah 6tahun ini dia diam-diam mengamati laki-laki itu. Ya, siapa lagi kalau bukan siwon. Hye in melihat siwon bersama beberapa anak-anak jalanan. Hye in tidak kaget. Dia tahu hal itu sejak lama. Banyak yang tidak tahu betapa baiknya siwon. Sebenarnya hye in menyukai siwon sejak siwon pindah di depan rumahnya. 6tahun lalu, saat hye in baru masuk SMA. Laki-laki itu tiba-tiba saja sudah tinggal di depan rumahnya. Kata omma, dia pindahan dari amerika. Sebenarnya mereka satu sekolah, tapi karena beda kelas mereka tak dekat. Bahkan hye in tak tahu, apakah siwon mengenalnya atau tidak. Hye in yang pemalu, tidak berani terang-terangan menyatakan perasaannya. Walaupun mereka tetanggaan, tapi hye in tak pernah bertegur sapa dengan siwon. Siwon terlalu sulit untuk hye in rengkuh. Hye in hanya bisa memandanginya lewat jendela kamarnya. Ya, setiap hari selama 6tahun. Bahkan hye in tahu persis rutinitas siwon sehari-hari. Siwon terlalu sibuk untuk sekedar mengenal tetangganya. Setiap pagi, hye in selalu menanti siwon keluar rumah. Persis jam6 pagi, siwon pasti akan keluar rumah dengan motornya. Awalnya hye in kira dia selalu berangkat pagi ke sekolah, ternyata salah. Siwon memang suka berangkat pagi, tapi tidak langsung ke sekolah. Dia akan menemui anak-anak jalanan itu terlebih dulu. Kadang berbagi makanan, bahkan sampai mengajari mereka belajar. Dan itu tak diketahui siapapun. Siwon akan kembali ke rumah tepat pukul10malam. Dia tak pernah pulang sebelum jam10. Biasanya sehabis pulang sekolah, siwon akan menemui anak-anak jalanan itu lagi..., dan sorenya, dia suka berlatih balap motor disebuah bekas gedung perkantoran yang sudah tidak dipakai lagi. Siwon bisa sampai malam berada disana. Entahlah, hobinya balap motor memang sering membuat hye in khawatir, tapi sepertinya siwon sangat menyukai hobinya itu. Terkadang, siwon suka pergi ke sebuah lapangan basket dekat sekolahnya dulu. Dia akan mendribel bola dengan cepat, dan siwon juga suka basket jalanan. Benar-benar sangat bertolak belakang dengan keluarganya yang terhormat. Hye in mengira mungkin siwon hanya kesepian saja, orang tuanya sangat sibuk. Bahkan, saat hye in mengantar makanan ke rumah siwon.., dia tak pernah melihat siwon, pasti pembantunya yang menerima. Rasa itu, entahlah... setiap hari tumbuh begitu saja. Bahkan sampai sekarang, 6tahun berjalan... hye in tak pernah berani mengatakannya. Jangankan mengatakannya, untuk sekedar berteman saja hye in tak berani. Hye in hanya puas dengan memandang siwon dari jauh. Dari balik jendela kamarnya. Dan selamanya..., mungkin selamanya akan begitu.
--------------

“brm... brm...” hye in terkejut. Sebuah motor berhenti di depannya. Hye in tak mengenal orang itu. Orang tersebut membuka helmnya, rambutnya yang panjang terurai. Dia perempuan.
“chika” hye in kaget, dia pikir itu laki2...,
“kenapa,? Kaget,?” hye in hanya diam,’apa mw anak ini?”
Chika menatap hye in tajam. “aku hanya ingin menyampaikan pesan siwon. Sebaiknya jangan pernah mengikutinya lagi. Dan jangan sekali-kali kau menyukai dia”
kata-kata chika membuat hye in kaget, mengikuti,? Jadi selama ini siwon tahu kalau hye in mengamatinya,? Atau..., hanya kebetulan saja dia ketahuan. Hye in tampak pucat, dia selalu begitu. Mudah panik.
“tak perlu panik begitu. Ku pikir kau bukan tipe-nya siwon” chika mengenakan kembali helmnya. Dia melajukan motornya meninggalkan Hye in. Hye in masih bingung, kenapa siwon tak mengatakannya sendiri,? Apakah sebegitu tak pedulinya dia pada Hye in,?
------------

Naitan university.
Pagi ini kelas masih tampak sepi,’baru jam7’ hye in terlalu pagi rupanya. Yesung, donghae, dan ji neul juga belum datang. Hye in membuka tasnya dan mengambil sebuah buku. Hye in membacanya, menunggu jam masuk. Baru 2halaman, hye in melihat siwon, jaejoong, dan chika masuk kelas. Tumben jam segini dah masuk, biasanya mereka selalu terlambat bahkan sering tak masuk kelas. Oya, mereka kan sedang dihukum akibat keributan lalu. Pantas saja mereka sudah ada dikelas. Sekilas, hye in melirik siwon. Laki-laki itu..., benarkah sedikitpun tak pernah menganggap hye in ada. Padahal mereka bertetangga. Siwon duduk dikursi paling belakang, tanpa menoleh sedikitpun pada hye in. Lalu langsung tidur. OMG, tidur,? Hye in masih tak habis pikir, sebenarnya siwon itu orang seperti apa. Chika tampak sedang bermesraan dengan jaejoong. Hye in sedikit risih, serasa jadi obat nyamuk saja.
“hei, ngapain liat2...? pengen?” chika lagi-lagi membuat hye in harus sabar. Hye in hanya diam melanjutkan membaca buku. Chika mendekatinya, dan mengambil buku hye in. hye in kaget.
“aku bicara padamu,? Tak punya telinga?” chika menatap hye in. hye in diam, dan menunduk.
“kalian jangan ganggu hye in” tiba-tiba yesung datang bersama donghae dan jineul. Jaejoong menatap yesung  jengkel. Kalau bukan karena sedang dihukum, mungkin jaejoong sudah membuat keributan lagi.
“kalian jangan berisik” dari kursi paling belakang terdengar siwon mengingatkan. Sepertinya dia terganggu. Jaejoong hanya menatap yesung tajam. Jaejoong meninggalkan hye in, dan keluar kelas bersama chika.
“awas kau...!!!” sebelum keluar jaejoong sempat mengancam yesung. Yesung hanya menatapnya saja, sebenarnya yesung juga ingin memukul jaejoong kalau tidak ingat mereka sedang dihukum.
“kau tidak apa-apa,?” ji neul memastikan keadaan hye in. hye in hanya mengangguk, dan melirik ke arah siwon sebentar. Dia masih tidur,????
------------

Seoul, sore hari.
Hari ini ada pelajaran tambahan, jadi hye in pulang lebih sore. Seperti biasa, dia melewati jalan biasa siwon menemui anak-anak jalanan. Tapi hye in tak melihat siwon, mungkin dia sedikit terlambat dari biasanya. Mungkin siwon sudah pergi. Sudahlah...!!! hye in terus menyusuri jalan.
“sret...” tiba-tiba ada yang memegang tangan hye in. hye in panik, siapa?
“diam...!!! jangan berteriak atau ku bunuh kau” rupanya dua orang preman mencoba mengambil tas hye in. hye in panik bukan main. Mana jalanan sepi..., dia juga tak berani berteriak. Penjahat itu mengambil paksa tas hye in. dan segera meninggalkan hye in. hye in kalut..., tolooong....!!! akhirnya dia berteriak setelah penjahat itu pergi. Sepi, tak ada orang. Hye in masih bingung dia minta tolong pada siapa,? Toloooong...!!! hye in kembali berteriak, dan sebuah motor melaju cepat, mengejar `penjahat itu. Hye in tak tahu pasti siapa orang itu. Orang tersebut seperti sudah biasa mengemudikan motornya. Penjahat itu terkejar. Diserempetnya penjahat itu dan jatuh bersama motor yang dikendarainya. Orang itu lalu mengambil tas hye in dan melaju ke arah hye in. hye in sedikit lega. Orang misterius itu menyerahkan tas hye in.
“gomawo..., “ belum selesai hye in bicara, orang itu telah pergi. Hye in melihatnya melajukan motornya. ‘siapa dia?’ sepertinya hye in mengenal orang itu.
---------

Rumah hye in.
Seperti malam-malam sebelumnya, hye in menatap keluar jendela. Dari kamarnya dilantai dua, dia bisa dengan jelas melihat ke depan rumah. Sudah pukul10 malam, tapi siwon belum juga pulang. Hye in masih setia menanti, ya kebiasaanya selama 6tahun ini. bahkan dia bisa menunggu hingga jam3 pagi demi melihat dan memastikan siwon telah pulang dengan selamat. Sebenarnya Hye in masih penasaran siapa orang yang menolongnya tadi siang,? Siwonkah? Ah..., pabo...!!! bagaimana mungkin siwon mw menolongnya,? Tapi..., bukankah memang siwon sebenarnya sangat baik,?
Brm..., brm...
Hye in tersadar dari lamunannya. Itu suara motor siwon, ya... dia sudah pulang dan baik-baik saja. Hye in tersenyum, sampai kapan dia akan terus seperti ini,? hanya mampu memandang siwon dari balik jendela kamarnya.
-------------

Naitan university.
Hari ini hye in tak melihat siwon. Dia memang melihatnya tadi pagi, tapi dia tidak masuk kampus. Hye in sangat mengkhawatirkannya, apalagi chika dan jaejoong hari ini ada dikelas. Bukankah mereka bertiga selalu bersama-sama,? ‘apa aku harus tanya chika? Tidak...!!! pasti nanti chika akan marah padanya dan hal ini sama saja cari masalah’ hye in jadi bimbang.
“hye in..., makan yuk,,, aku laper, donghae oppa tadi katanya ada urusan, jadi tak bisa menemaniku makan” jineul membuat hye in tersentak. Hye in hanya tersenyum dan mengangguk.
--------------
donghae

Salah satu sudut naitan university.
Tampak donghae berdua saja bersama kim chika. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kelihatannya sangat serius.
“huh, kau pikir aku masih mw,?” donghae tampak tak ingin diajak kompromi.
“sebenarnya aku juga nggak mw bilang ini padamu, ku pikir juga percuma” kim chika tampak tak senang dengan jawaban donghae.
“lalu?”
“aku..., sudahlah...!!! kau tak kan mengerti” chika tampak enggan membicarakannya.
“apa jaejoong tahu” donghae menuntut jawaban
“bukankah kau sudah menolakku,?” chika mulai enggan bicara
“mungkin akan ku pikirkan lagi” donghae sepertinya sedikit ragu dengan jawabannya.
“ku harap kau tak membuat kesalahan kedua kalinya” chika mengakhiri ucapannya. Donghae sedikit memaksakan sebuah senyuman yang terkesan sinis sebelum meninggalkan chika.
Glek...!!!
“ji neul...” donghae terkejut, sejak kapan jineul ada ditempat itu? Apa dia mendengar semuanya?

TBC

3 komentar:

  1. tragis amat love story-nya hye in... wekekeke,
    lanjut Pooh...!!!
    chika, cloud... mana lanjutan little mafia & Chocober,???

    BalasHapus
  2. huoo huoo...si jineul tukang nguping...

    huhuhu..Siwooonn... T.T

    tunggu kerjaanku kelar min..

    BalasHapus
  3. hem..., donghae 'pain ma chika,? hayo hayo hayo... wkwkwkwk

    BalasHapus