Senin, 11 Februari 2013

BIKERS II


(Love and Friendship)

Part. III
Seoul Airport

Chika dan jaejoong tengah mengantar siwon. Yesung dan donghae juga tak ketinggalan. Mereka berdua menyusul siwon ke bandara.

“aku pasti akan kembali kesini” siwon berpamitan. Jaejoong menggandeng tangan chika erat. Mereka tersenyum dan mengangguk. Siwon memberikan pelukan perpisahan pada jaejoong..

“aku sangat menyayangi kalian” ujarnya

“kami juga siwon..., kami akan menunggumu pulang” jaejoong seolah berat melepas siwon. Jaejoong menepuk-nepuk punggung siwon pelan, lalu melepaskan pelukannya. Siwon beralih menatap chika. gadis ini, dia adalah sahabat sejak kecilnya.

“kau baik-baik dengan jaejoong ya” siwon memeluk chika. chika membalasnya.

“jangan lupa kabari kami saat kau sudah disana” chika mengingatkan. Siwon melepas pelukannya, dia menatap dua sahabat baiknya. Tak lama, yesung dan donghae datang.

“siwon..!!!” yesung membuat siwon melihat ke arah suara itu. jaejoong dan chika menoleh. Yesung dan donghae.

“kami tak terlambatkan,?” donghae terengah-engah, sepertinya mereka tadi mengejar waktu demi mengantar siwon. Siwon tersenyum, lalu memeluk keduanya bergantian.

“gomawo...,” ucapnya dia terharu melihat yesung dan donghae mengantar kepergiannya.
***

One Restaurant, Seoul

“kau yakin tak ingin mengantar siwon?” jineul ingin memastikan. Hye in, yang ditanya hanya diam. Ada peperangan dalam hatinya.

“untuk apa,? Hanya membuatku tak bisa melepasnya” hye in berkata lirih. Jineul mendekati hye in. dia menarik kursinya kesamping hye in, lalu memeluknya. Menghibur hye in yang mulai meneteskan air mata.

“kau tahu..., yesung sangat mengkhawatirkanmu” entah karena apa jineul mengatakan hal itu.

“bahkan dia mempertaruhkan nyawa untukmu. Pertandingan kemarin..., tanpa yesung, bikers tak kan bisa memenangkannya. Dan itu..., untuk siwon, untukmu hye in” jineul masih mendekap hye in dalam pelukannya. Perlahan hye in melepaskan pelukan itu dan menatap jineul tak mengerti.

“bagi donghae dan jaejoong..., pertandingan itu biasa... tapi bagi yesung,,,, dia tak pernah melakukannya sebelum ini. Dan ini demi melihatmu tersenyum” perlahan hye in menangkap maksud jineul.

“dia selalu ingin melihatmu tersenyum. Bahkan hari ini pun dia tak ingin melihatmu menangis karena siwon” jineul menutup kalimatnya. Hye in menatap sahabatnya lekat. Dia bahkan tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
***

Seoul Airport

Siwon memantapkan hati meninggalkan teman2nya. Sebenarnya dia ingin hye in ada disini mengantarnya. Dia hanya ingin memastikan kalau hye in tak apa-apa. Chika merapat pada jaejoong, ternyata mengantar kepergian siwon lebih sulit dari yang dia bayangkan. Yesung dan donghae, melepas siwon dengan harapan siwon akan segera kembali. Siwon menatap satu persatu sahabatnya, lalu tersenyum dan menarik kopernya. Meninggalkan sahabat baiknya.

“siwooooon.....!!!” siwon berhenti, dia mengenali suara itu.

“hye in..” siwon menoleh, dilihatnya hye in dan jineul tengah berlari ke arahnya. Jaejoong, yesung, donghae, dan chika menoleh ke asal suara itu. Hye in langsung menyusul siwon yang masih dipintu keberangkatan. Ji neul mendekati donghae, menatap donghae dan tersenyum, meyakinkan donghae semua baik-baik saja.

“siwon..., mianhe aku agak terlambat” hye in tampak lebih cerah. Dia sangat bersemangat. Siwon lega melihat wajah hye in yang cerah. Matanya berbinar, menandakan hye in sedang bahagia.

“kau harus sembuh ya..., dan cepatlah kembali” hye in menatap siwon.

“sure...!!!” siwon memastikan.

“kau tak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja” hye in meyakinkan. Dia tahu selama ini siwon pasti mengkhawatirkan kebodohannya. Siwon mengangguk.

“give me a hug” hye in membuka kedua tangannya lebar. Dan siwon tersenyum menyambutnya.

“aku akan sangat merindukanmu siwon”

“me too....”
------------

Someplace restaurant, Seoul

Restaurant terbuka dipinggir pantai ini merupakan salah satu tempat favorit untuk hangout. Tempatnya sangat indah apalagi kalau sunset seperti ini. Jineul tampak berdua saja dengan yesung. Sebenarnya tadi mereka datang bersama donghae, jaejoong, dan chika. Hye in sedang ada urusan, jadi dia berjanji akan segera menyusul setelah urusan selesai. Sedang jaejoong, chika, dan donghae memilih mencari angin dilantai dua restaurant ini.

Seperti biasa, jineul tak pernah bosan menikmati juz strawberry-nya. Sedang Yesung,  di depannya ada secangkir moccapuccino.
“jadi kapan kau akan mengungkapkan perasaanmu pada hye in,?” jineul asyik meminum juz-nya. Yesung menatap jineul serius. Jineul jadi tak enak hati.

“jangan menatapku seperti itu kepala besar” ‘ctuk’ jineul memukul kepala Yesung dengan sendok didepannya.

“aww..., kau ini. Bagaimana bisa donghae begitu menyukai gadis kasar sepertimu” yesung mengelus kepalanya. Jineul cemberut.

“jadi,?” jineul kembali memastikan.

“apa,?” Yesung mencoba mengelak.

“jangan berlagak bodoh” jineul mulai jengkel.

“well..., mana mungkin aku menyukai gadis aneh seperti hye in.” yesung mengelak.

“jangan bohong...!!!” jineul menatap tajam, Yesung tahu percuma. Jineul sudah tahu semua.

“ne. aku menyukai gadis idiot itu. Puas,?” yesung menegaskan pada jineul.

“hahaha..., berarti benarkan,? Tapi... apa tak apa-apa kau sebut dia idiot” jineul sedikit merasa yesung terlalu berlebihan.

“terus,? Kalau bukan idiot namanya apa...? 6tahun menyukai seseorang tapi untuk memperkenalkan dirinya saja tak bisa. Menunggu orang itu pulang setiap hari dari balik jendela. Apa itu tidak idiot namanya,?” Yesung tampak semangat. Jineul hanya menahan tawa. Kadang Yesung memang terlalu jujur mengatai orang.

“siapa yang kau bilang idiot,?”

‘mwo,?’ jineul menoleh, hye in.... sejak kapan dia berdiri dibelakangnya.

“ah.., aniyo” yesung mengelak.

“kau kira aku tuli,?” hye in tampak cemberut. Jineul menatap bulat Yesung, lalu beringsut perlahan meninggalkan yesung dan hye in yang mulai berantem.

Hye in duduk didepan Yesung.

“jadi,?” hye in masih menatap marah

“jadi apa,? Aku tak bicara apa-apa” yesung mengelak. Dia tak mw disalahkan.

“kau bilang aku idiotkan,?” hye in bersikukuh.

“kau mungkin yang merasa” Yesung masih ngeles.

“kau....!!! kau menyebalkan” hye in menunjuk Yesung. Yesung menatap hye in cuek. Tiba-tiba...

“hei... apa itu,?” Yesung menunjuk sesuatu dibelakang Hye in. Hye in menoleh dan.... ‘cup’ sebuah kecupan hangat mendarat dipipi Hye In. Hye in terkejut dan memegang pipinya, menatap Yesung yang tersenyum nakal berdiri disampingnya.

“saranghaeyo gadis idiot...!!!” ucapnya rese’ Hye in tersenyum jengkel sekaligus senang...,

“yesuuuung...!!!” Hye in ingin sekali menjitak kepala besar itu. Yesung berlari menghindar dan Hye in mengejarnya.

“jangan lari kau Big Head” hye in mencoba mengejar Yesung.

“coba saja, gadis idiot” yesung tertawa lepas. Masih membuat hye in mengejarnya hingga ke bibir pantai.

“aww...” tiba-tiba ombak kecil datang, hye in tak siap hingga jatuh, tapi yesung sigap menangkapnya dan mereka bergulung bersama ombak. Yesung sudah ada diatas tubuh Hye in memeluknya erat.

“yesung... saranghaeyo” hye in tahu dia begitu menyukai laki-laki ini. Kedua mata mereka bertemu. Tiba-tiba Hye in merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya.
Sementara itu, jaejoong, chika, donghae, dan jineul melihat tingkah aneh kedua orang itu dari lantai atas restaurant. Menyaksikan sunset bersama semilir angin. Chika berdiri dipinggir pembatas setinggi perutnya. Menatap ke arah yesung dan hye in yang bergulung-gulung bersama ombak.

“dasar pasangan yang aneh” ucapnya sinis. Jaejoong didekatnya. Sementara donghae dan jineul agak jauh disamping mereka. Jaejoong tersenyum melihat ke pantai lalu meraih tangan chika lembut. Chika menatap jaejoong, sedikit kaget dengan sentuhannya. Jaejoong menatap chika.

“jangan pedulikan mereka.” Jaejoong sedikit mendekat ketubuh chika, membuat chika berbalik dan bersandar pada pagar, jaejoong makin mendekatinya. Tepat didepannya.

“kau tahu...., kau selalu membuatku tergila-gila kim chika...” jaejoong makin mendekatkan wajahnya ke chika. chika tersenyum, dan menutup matanya. Jaejoong mencium chika lembut.

jineul yang melihat itu seketika berseru..., “oooo... so....”

“ayo..., aku harus mengantarmu pulang” tiba-tiba donghae mengalihkan wajah jineul dan menggandengnya. Menuntunnya menjauh dari tempat itu.

“t...tapi oppa....” jineul hendak protes. Dia masih berusaha melihat ke arah chika dan jaejoong yang tenggelam bersama sunset.

“jangan bawel...” donghae tersenyum merengkuh bahu jineul dan mengacak-acak rambut jineul.
--------

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar